Ekologi Revolusioner

Judul : Ekologi Revolusioner
Penulis: Judi Bari
Tahun terbit : 2019
Penerbit : Arsip Bawah Tanah
Jumlah halaman : 28 hlm
Ukuran berkas : 4,4 mb

DOWNLOAD: PDF / DOC

_______________________________

Ekologi Revolusioner

oleh Judi Bari

Saya adalah seorang aktivis gerakan sosial bertahun-tahun sebelum mendengar tentang Earth First!. Jadi sewaktu bergabung dengan Earth First! di tahun 1980-an, saya terkejut ketika mengetahui bahwa gerakan lingkungan radikal tidak terlalu memperhatikan masalah-masalah sosial yang mengakibatkan kehancuran ekologis. Begitu pula dengan gerakan sosial urban yang sepertinya kesulitan mengakui pentingnya isu-isu lingkungan hidup, dan seringkali menganggap remeh semua isu lingkungan kecuali “rasisme lingkungan”. Akan tetapi, untuk merespons krisis sekarang ini secara efektif, saya percaya bahwa kita harus menggabungkan kedua isu tersebut.

Semua berawal dari sebuah konsep yang sangat masuk akal, tetapi revolusioner, yang menyatakan bahwa praktik sosial yang mengancam keberlanjutan kehidupan di muka bumi haruslah diubah. Kita membutuhkan sebuah teori ekologi revolusioner yang meliputi isu-isu sosial dan biologis, perjuangan kelas, dan sebuah pengakuan bahwa kapitalisme korporat global berperan dalam penindasan banyak orang dan kehancuran lingkungan.

Saya percaya kita sudah memiliki teori tersebut. Teori itu disebut ‘ekologi dalam’ (deep ecology). Inilah inti pemahaman dari gerakan lingkungan radikal. Masalahnya, pada fase awal perdebatan ini, ekologi dalam secara keliru diasosiasikan dengan ide-ide sayap kanan, seperti menutup perbatasan, mengelu-elukan AIDS sebagai mekanisme kontrol populasi, dan mendorong orang Etiopia untuk kelaparan. Keadaan seperti ini membuat para pegiat ekologi sosial bergegas untuk memisahkan diri. Saya percaya hal ini memperkeruh aliran gerakan kita yang sedang berupaya untuk mendefinisikan diri di bawah sebuah filsafat bersama.

Jadi, dalam artikel ini saya akan mencoba menjelaskan dari perspektif saya—sebagai seorang yang secara terang-terangan kiri—mengenai ekologi dalam dan mengapa menurut saya ekologi dalam merupakan sebuah pandangan yang revolusioner. Saya tidak mencoba mengklaim gagasan saya sebagai kebenaran absolut atau sebuah proses berpikir yang telah selesai. Berikut ini hanyalah beberapa gagasan yang saya miliki mengenai topik terkait, dan saya harap dengan memublikasikannya dapat memantik lebih banyak perdebatan dan akhirnya meningkatkan diskusi kita.

Biosentrisme

Ekologi dalam atau biosentrisme adalah sebuah keyakinan bahwa alam tidak tercipta untuk melayani manusia. Justru manusia adalah bagian dari alam: satu spesies di antara banyak spesies lainnya. Semua spesies memiliki hak untuk eksis demi diri mereka sendiri, tidak peduli mereka berguna bagi manusia atau tidak. Keanekaragaman hayati adalah sebuah nilai tersendiri. Nilai yang penting bagi kemajuan manusia dan makhluk-makhluk selain manusia. 

Saya percaya, prinsip-prinsip ini tidak hanya sekadar teori. Biosentrisme adalah hukum alam yang hadir secara independen, tak peduli manusia menerimanya atau tidak. Tak peduli jika kita memandang dunia dalam pandangan yang sangat berpusat pada manusia, alam tetap beroperasi secara biosentris. Kegagalan masyarakat modern mengakui hal ini—seperti upaya-upaya kita dalam menyubordinasikan alam untuk keperluan manusia—telah membawa kita ke ambang kehancuran berbagai sistem dukungan kehidupan di bumi.

Biosentrisme bukan sebuah teori baru. Ia tidak diciptakan oleh Dave Foreman atau Arnie Naas. Ia adalah kearifan lokal sejak zaman purba yang termaktub dalam pepatah, “Bumi bukan milik kita. Kita adalah bagian dari bumi”. Namun, dalam konteks masyarakat industri masa kini, biosentrisme benar-benar sangat revolusioner. Ia menantang sistem hingga ke dasar-dasarnya.

Biosentrisme Berkontradiksi dengan Kapitalisme

Sistem kapitalis berkonflik langsung dengan hukum-hukum alamiah biosentrisme. Pertama, kapitalisme didasarkan pada prinsip kepemilikan pribadi—segelintir manusia memiliki sumber daya bumi dan mengeksploitasinya untuk meraup keuntungan. Di masa lalu, kapitalis bahkan percaya bahwa mereka dapat memiliki manusia lain. Namun, sama halnya seperti perbudakan telah semakin didiskreditkan dalam pandangan dunia yang dominan hari ini, seperti itulah prinsip-prinsip biosentrisme mendiskreditkan konsep yang menyatakan bahwa manusia dapat memiliki bumi.

Bagaimana bisa seorang penjahat korporat semacam Charles Hurwitz mengklaim “memiliki” kayu-kayu redwood berumur 2000 tahun di Hutan Headwaters hanya karena ia menandatangani beberapa lembar kertas untuk menukarnya dengan obligasi sampah (junk bond)? Gagasan ini absurd. Hidup Hurwitz hanyalah satu titik kecil dibandingkan kehidupan yang telah dilalui oleh pohon-pohon tua ini. Walaupun Hurwitz punya kekuasaan untuk menghancurkan hutan, ia tidak punya hak untuk melakukannya.

Salah satu senjata terbaik para aktivis lingkungan di AS dalam perjuangan menyelamatkan tempat-tempat seperti Hutan Headwaters adalah Undang-Undang Spesies Terancam Punah—sekarang undang-undang ini pun terancam punah. Hukum ini dan hukum-hukum lainnya yang memiliki nilai-nilai kepercayaan publik seperti udara bersih, air bersih, dan perlindungan spesies-spesies yang terancam, sesungguhnya adalah sebuah pengakuan bahwa hukum kepemilikan pribadi tidak cocok dengan hukum alam. Kamu tidak bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan pada propertimu tanpa memengaruhi area sekitar, sebab ada saling keterhubungan di bumi, dan alam tidak mengenal batasan-batasan manusia.

Namun, jika pun kapitalisme bisa melampaui kepemilikan pribadi, ia tetap berkonflik dengan biosentrisme dalam hal konsep keuntungan/profit. Profit berarti mengambil lebih banyak daripada yang diberikan. Tentu saja ini kontras dengan siklus kesuburan alam yang bergantung pada sebuah keseimbangan antara memberi dan mengambil. Hal yang lebih penting lagi yaitu mengenai dari mana profit ini diambil. 

Menurut teori Marxis, keuntungan dicuri dari para pekerja ketika kapitalis/pengusaha membayar mereka lebih rendah dari nilai yang mereka produksi. Porsi nilai produk yang diambil kapitalis dan tidak dibayarkan ke pekerja disebut ‘nilai lebih’. Jumlah nilai lebih yang diambil kapitalis bervariasi, tergantung pada tingkat kemampuan organisasi pekerja dan tingkat keunggulan mereka dalam kelompok pekerja dunia. Namun, di bawah kapitalisme, kelas pekerja tidak akan pernah bisa dibayar penuh sesuai dengan nilai yang dihasilkannya, sebab kelas kapitalis dapat hidup dengan memeras nilai lebih dari hasil tenaga kerja para buruhnya.

Pada dasarnya saya setuju dengan analisis ini, tetapi saya pikir ada satu hal besar yang hilang. Saya percaya bahwa nilai produk tidak hanya diukur dari tenaga kerja yang dipakai untuk memproduksinya, tetapi juga sumber daya alam yang digunakan untuk membuat produk tersebut. Saya percaya bahwa nilai lebih (seperti profit) tidak hanya dicuri dari para pekerja, tetapi juga dicuri dari bumi. Penggundulan hutan adalah contoh sempurna dari pemerasan nilai lebih bumi. Jika produksi dan konsumsi manusia dilakukan dalam batas alamiah kesuburan bumi, maka persediaan sumber daya bumi tidak akan ada habisnya. Namun, ini tidak dapat terjadi di bawah sistem kapitalisme karena kelas kapitalis hidup dengan memeras keuntungan, tidak hanya dari para pekerja, tetapi juga dari bumi.

(Catatan penulis: di titik ini, intelektual Marxis selalu keberatan dan mengutip Critique of the Gotha Program untuk menyatakan bahwa Marx mengakui keberadaan alam sebagai sumber nilai, sama seperti tenaga kerja. Namun, Marx membuat perbedaan antara ‘nilai pakai’, yang ia katakan datang dari alam dan tenaga kerja, dan ‘nilai tukar’, yang datang dari tenaga kerja saja. Di titik inilah saya tidak setuju. Terlihat sangat jelas bagi saya bahwa nilai pakai, yang diambil dari alam, membantu menentukan nilai tukar. Contohnya, pohon redwood dan cemara tumbuh berdampingan di hutan yang sama, dengan tingkat pertumbuhan yang sama. Namun, besarnya tenaga kerja yang diaplikasikan ketika memotong dan memanen pohon redwood berusia 600 tahun setinggi 6 kaki akan memproduksi lebih banyak nilai tukar dibandingkan dengan memotong pohon cemara berusia 600 tahun setinggi 6 kaki. Alasan redwood dihargai lebih tinggi karena ia memiliki kualitas-kualitas tertentu yang tidak dimiliki cemara. Kayu redwood sangat tahan busuk sehingga dapat digunakan sebagai tembok yang terekspos pada ruang terbuka atau menjadi kayu pondasi yang bersentuhan langsung dengan tanah, sedangkan kayu cemara tidak bisa. Kualitas tahan busuk ini tidak diberikan oleh tenaga kerja manusia. Ia adalah kualitas yang disediakan alam. Sehingga, ketika saya mengatakan bahwa sebuah nilai berasal dari tenaga kerja dan alam, saya sedang merujuk pada ‘nilai tukar” dan bukan ‘nilai pakai’.)

Perusahaan-perusahaan modern adalah wujud terburuk dari penyakit ini. Sebuah bisnis kecil dapat hidup karena profit, tetapi setidaknya tujuan utamanya adalah untuk menyediakan nafkah penghidupan bagi pemiliknya: manusia dengan rasa tanggung jawab terhadap komunitasnya. Namun, sebuah perusahaan tidak memiliki tujuan hidup atau panduan moral atas tingkah lakunya selain untuk meraup keuntungan. Bahkan, perusahaan-perusahaan global saat ini melampaui kendali pemerintahan atau negara mana pun. Faktanya, negara melayani perusahaan. Pasukan bersenjatanya bersiap untuk menjaga profit perusahaan di seluruh dunia dan polisi rahasianya siap untuk menginfiltrasi dan memusnahkan perlawanan serius di tempatnya. 

Dengan kata lain, sistem saat ini tidak bisa direformasi, sebab ia didirikan di atas kerusakan bumi dan eksploitasi manusia. Tidak ada yang namanya kapitalisme hijau. Produk-produk hutan hujan yang dipasarkan secara trendi tidak akan mengembalikan ekosistem yang dihancurkan kapitalisme demi meraup keuntungan. Inilah alasan saya percaya bahwa orang-orang yang berkecimpung di bidang ekologi haruslah revolusioner.

Biosentrisme Berkontradiksi dengan Komunisme 

Seperti yang mungkin telah anda ketahui, latar belakang saya dalam teori revolusioner datang dari Marxisme, yang menurut saya adalah sebuah kritik brilian atas kapitalisme. Namun, mengenai apa yang harus diimplementasikan untuk menggantikan kapitalisme, saya pikir marxisme belum menunjukkan jawaban ini kepada kita. Saya percaya salah satu alasannya karena komunisme, sosialisme, dan ideologi-ideologi kiri lainnya yang saya ketahui hanya berbicara tentang bagaimana cara mendistribusikan ulang barang rampasan dari hasil memerkosa bumi secara lebih merata di antara kelas-kelas manusia. Mereka bahkan tidak membahas hubungan masyarakat dengan alam, atau mungkin mereka berasumsi bahwa hubungan ini akan tetap sama seperti di bawah kapitalisme—hubungan sebagai konsumen yang rakus, dan bahwa tujuan revolusi hanya sekadar untuk menemukan cara yang lebih efisien dan egaliter dalam berproduksi dan mendistribusikan produk-produk.

Pengabaian total terhadap alam sebagai penggerak kehidupan dan bukan sekadar bahan mentah, membuat negara Marxis terburu-buru melakukan industrialisasi tanpa mekanisme perlindungan yang memadai. Kondisi ini menghasilkan bencana-bencana terkenal seperti melelehnya pabrik tenaga nuklir Chernobyl, tumpahnya minyak di Samudra Arktik, dan musnahnya hutan mubut di Siberia yang masih berlangsung hingga sekarang. Berbagai bagian di Rusia dan Eropa Timur terdampak warisan racun ini hingga area yang luas sekarang tidak dapat dihuni lagi. Marx menyatakan bahwa kontradiksi utama dalam masyarakat industri adalah kontradiksi modal dan tenaga kerja. Saya percaya bencana-bencana ini menunjukkan bahwa ada kontradiksi yang sama pentingnya antara masyarakat industri dan bumi.

Namun, walaupun sosialisme telah sangat gagal memperhitungkan tentang ekologi, bukan berarti ia tidak dapat direformasi—sama halnya seperti kapitalisme. Salah satu prinsip sosialisme adalah “produksi untuk kegunaan, bukan untuk keuntungan”. Oleh karenanya, ketidakseimbangan alam di bawah sosialisme tidak separah di bawah kapitalisme. Saya dapat membayangkan sebuah bentuk sosialisme yang tidak menghancurkan bumi, tetapi bentuknya tidak seperti model industrial Marx.

Di antara hal-hal lainnya, sosialisme ekologis akan harus berhadapan dengan isu sentralisme. Ide Marxis mengenai politik berbadan besar yang terkait dengan otoritas perencanaan tersentral mensyaratkan: (1) kecenderungan otoritarianisme; (2) penggunaan teknologi produksi massal yang sangat berkaitan dengan pengrusakan bumi dan penghancuran semangat manusia. Sosialisme ekologis berarti mengorganisir masyarakat manusia dengan cara yang sejalan dengan bagaimana alam terorganisir. Saya percaya tatanan alamiah bumi adalah bioregionalisme, bukan statisme.

Masyarakat industri modern menjauhkan kita dari satu sama lain, dan menjauhkan komunitas-komunitas manusia dari alam. Keadaan ini menciptakan kerinduan besar dalam diri kita, dan kita diajarkan untuk meredamnya dengan mengonsumsi berbagai produk. Namun, terlepas dari kebutuhan hidup dan hiburan dasar, produk-produk konsumen itu bukanlah hal yang benar-benar kita idamkan. Jadi, hasrat kita tidak bisa terpuaskan. Kita beralih ke metode-metode produksi yang semakin efisien dan tidak manusiawi demi membuat lebih banyak lagi produk-produk yang tidak memuaskan kita. 

Biosentrisme Berkontradiksi dengan Patriarki

Patriarki adalah bentuk penindasan yang paling tua dan menurut saya paling dalam di bumi. Faktanya, ia sangat tua dan dalam hingga kita tidak berani bahkan untuk menamainya. Jika anda orang kulit putih, anda bisa berbicara tentang apartheid. Anda bisa berkata “saya menolak apartheid” tanpa membuat seluruh orang kulit putih gusar dan tersinggung atau mengira anda sedang membicarakan mereka. Namun, jika anda menyebut patriarki, anda akan berhadapan dengan lolongan mengejek dan protes dari para pria progresif yang menganggapnya sebagai hinaan personal. Saya pikir masalah patriarki perlu ditangani oleh setiap pergerakan revolusioner yang serius. Faktanya, saya pikir kegagalan menangani masalah patriarki adalah salah satu dari kelemahan besar Marxisme—Salah satu contoh favorit saya adalah buku “The Women Question”, yang ditulis oleh empat pria Marxis! Kecacatan lainnya dalam Marxisme, menurut perkiraan saya, yaitu kegagalan dalam membahas ekologi. Saya pikir kedua hal ini adalah kekurangan yang sama seriusnya.

Maka saya ingin membahas tentang ekofeminisme dan relevansinya terhadap biosentrisme dan ekologi dalam. Ekofeminisme adalah pandangan menyeluruh mengenai bumi yang benar-benar konsisten dengan gagasan bahwa manusia tidak terpisah dari alam. Saya akan menggambarkan ekofeminisme dalam dua istilah yang berbeda. Pertama bahwa ada kesamaan pada masyarakat ini dalam memperlakukan perempuan dan alam. Hal ini tampak dalam ungkapan-ungkapan seperti “hutan perawan” dan “memerkosa ibu pertiwi”, sebagai contohnya.

Kedua, yang menurut saya bahkan lebih penting, yaitu alasan pengrusakan alam yang dilakukan oleh masyarakat ini. Tak pelak lagi sebagian alasannya adalah kapitalisme. Namun, selain itu, pengrusakan alam dalam masyarakat ini berasal dari penindasannya atas semua yang bersifat feminin.

Izinkan saya mengklarifikasi bahwa saya percaya laki-laki dan perempuan memiliki sifat-sifat maskulin dan feminin. Saya tidak mengatakan “semua laki-laki jahat—semua perempuan baik”. Saya mendefinisikan “sifat-sifat maskulin” sebagai penaklukan dan dominasi; “sifat-sifat feminin” sebagai pemeliharaan dan pemberi kehidupan. Saya pikir sifat-sifat maskulin yang menaklukkan dan mendominasi telah dihargai, tidak peduli siapapun yang mempertunjukkannya. Sebagai seorang perempuan macho, saya beritahu Anda, saya telah menerima berbagai macam pukulan dalam hidup saya sebab saya dapat keluar ke sana, berhadap-hadapan dengan orang, dan menjadi sama agresifnya dengan laki-laki mana pun. Sebaliknya, sifat-sifat feminin seperti memelihara dan memberi kehidupan tidak terlalu dihargai dan ditekan di dalam masyarakat ini, tak peduli entah pria atau wanita yang mempertontonkannya. Rendahnya penghargaan dan tekanan atas sifat-sifat feminin adalah alasan utama pengrusakan bumi. Itulah pandangan pribadi saya mengenai ekofeminisme. Saya tahu para akademisi memiliki lebih banyak definisi dan deskripsi rumit, yang beberapa bahkan saya sendiri tidak memahaminya. Saya akan menggunakan definisi pribadi saya yang mudah dimengerti. 

Hubungan antara penindasan nilai-nilai feminin dan kerusakan bumi sebenarnya jauh lebih jelas terlihat di negara-negara dunia ketiga ketimbang di masyarakat ini. Dalam negara dunia ketiga, kekuasaan kolonial mengambil alih dan alam harus dihancurkan oleh korporasi-korporasi imperialistik yang datang bersamanya. Salah satu cara kekuatan kolonial mengambil alih yaitu dengan memindahkan secara paksa para perempuan dari peran-peran tradisional mereka sebagai penjaga hutan dan tanah pertanian. Metode-metode perempuan dalam berinteraksi dengan siklus kesuburan bumi digantikan oleh para pria dan mesin-mesin. Bukannya memelihara kesuburan bumi, mesin-mesin ini merobek kesuburan bumi. Untuk alasan inilah, banyak gerakan lingkungan di dunia ketiga sebenarnya adalah gerakan perempuan. Gerakan Chipko di India dan gerakan penanam pohon di Kenya dan Brazil, sebagai contohnya. Pada tiap-tiap situasi ini, cara sifat-sifat feminin ditindas sangat serupa dengan cara alam dirusak.

Mungkin hal ini tidak terlalu jelas di dalam masyarakat ini, tetapi ia ada. Siapa pun yang pernah berurusan dengan Dinas Kehutanan, Departemen Kehutanan California, Undang-Undang Spesies Terancam Punah, atau hal-hal semacamnya, tahu bahwa ilmu pengetahuan digunakan sebagai otoritas untuk membenarkan pemerkosaan alam tanpa henti dalam masyarakat ini. Sains ditampilkan sebagai hal yang netral dan sebuah langkah objektif menuju pengetahuan. Sains dianggap sebagai sesuatu yang bebas nilai.

Padahal, sains tidak bebas nilai. Metode-metode ilmiah—tidak hanya ada satu metode, terlepas dari apa yang diajarkan pada kita di kelas sains—ilmu pengetahuan barat tidaklah bebas nilai. Faktanya, ilmu pengetahuan secara terbuka digambarkan oleh para penemunya sebagai sebuah sistem maskulin yang mensyaratkan pemisahan manusia dari alam; yang berarti menerapkan dominasi kita atas alam. Saya ingin memberikan beberapa kutipan agar Anda tahu alasan saya berkata demikian. Kembali ke asal-usul  metode ilmiah pada 1600-an dan periode Renaissance. Pertama, inisiasi metode ilmiah—naiknya metode ilmiah menjadi sebuah kebenaran absolut dan satu-satunya jalan menuju kebenaran—dimulai pada 1664. Sebagai contoh, ada sebuah kelompok yang disebut Royal Society yang terdiri dari para pria ilmiah yang mengembangkan teori ini. Mereka mendeskripsikan tujuan mereka—dan ini adalah sebuah kutipan—, “untuk meninggikan filsafat maskulin, tempat pikiran manusia (men/pria) dapat diaktifkan dengan pengetahuan akan kebenaran yang solid”. Jadi, gagasan mereka menyatakan filsafat maskulin ini akan memperlengkapi kita dengan kebenaran sekaligus lawan dari jenis pengetahuan feminin yang lebih bersifat “takhayul”.

Saya akan memberikan contoh lain. Kali ini dari seseorang yang bernama Sir Francis Bacon. Ia adalah salah satu orang terjahat dan sebenarnya cukup menggegerkan. Ia berkata bahwa metode ilmiah adalah sebuah metode agresi. Inilah kutipan pernyataannya: “Sifat dasar sesuatu akan mengkhianati dirinya sendiri dengan lebih mudah di situasi penuh gangguan dibandingkan di dalam kebebasan alamiahnya. Ilmu pengetahuan tidak hanya sekadar panduan halus tentang alam. Kita memiliki kekuatan untuk menaklukkan dan menundukkannya, untuk mengguncangnya hingga ke dasarnya”. Tujuan melakukan hal itu adalah “untuk menciptakan ras pahlawan-pahlawan yang diberkati, yang akan mendominasi baik alam maupun masyarakat”.

Jadi inilah akar dari metode ilmiah yang digunakan oleh Departemen Kehutanan California untuk membenarkan penggundulan hutan. 

Yang juga sama jahatnya adalah ungkapan Descartes “Cogito Ergo Sum” yang berarti “saya berpikir maka saya ada”. Ia sampai pada kesimpulan itu dengan mencoba membuktikan bahwa ia bisa ada tanpa merujuk pada hal-hal lain di sekitarnya. Konsep itu sendiri menunjukkan adanya pemisahan antara diri dan alam. Namun, ia berhasil melakukannya dengan baik, dan saya pikir ide ini juga cukup menarik. Tapi ia melangkah lebih jauh lagi. Ia juga berkata, “Well, saya dapat meragukan keberadaan ruangan ini. Saya dapat meragukan keberadaanmu. Saya dapat meragukan keberadaan saya. Satu-satunya hal yang tidak saya ragukan adalah saya meragukannya. AHA! Saya berpikir, maka saya ada!” Jadi pendapatnya cukup cerdas, tetapi tetap saja sangat sempit dan berpusat pada diri sendiri. Saya selalu berkata bahwa hanya anak sulung saja yang dapat memiliki pandangan solipsistik seperti ini mengenai dunia. Descartes juga menyebut metode ilmiah yang kita pelajari di kelas sains sebagai “reduksionisme ilmiah”. Gagasannya bahwa dalam rangka memahami sebuah permasalahan kompleks, reduksilah masalah itu menjadi bentuk yang lebih simpel agar lebih mudah dipahami demi “menjadikan diri kita tuan dan pemilik alam”. Jadi gagasan “reduksionisme ilmiah” pun sebenarnya merupakan masalah dalam ilmu pengetahuan. Hal ini membantu menjelaskan alasan sains bukanlah sebuah langkah objektif menuju pengetahuan. Inilah metodologi yang akan kita perhatikan sedikit saat ini, demi memahami sesuatu yang kompleks.

Satu contoh lagi yaitu sebuah pernyataan dari Bacon kepada James I, yang terlibat dalam penelitian saat itu. Meningkatnya metode ilmiah yang maskulin ini muncul pada periode yang sama dengan masa-masa penindasan yang sangat kejam terhadap pengetahuan perempuan tentang bumi, cara-cara herbal, dan lain sebagainya. Jadi ini tidak hanya sekadar, “Oh, kita punya cara yang lebih baik, kalian para perempuan silakan menyingkir.” Ini lebih seperti, “Kami akan membakarmu di tiang pancang.” Tentu saja hal ini tidak netral. Hal semacam ini merupakan pemaksaan yang sangat agresif dan kejam. Dalam konteks ini, Bacon berkata pada James I, “Tidak seorang pun harus bersusah payah masuk ke sudut-sudut dan lubang-lubang itu jika pencekokan kebenaran adalah keseluruhan objeknya—seperti contoh yang diberikan oleh Yang Mulia.” Satu-satunya cara melanggengkan mitos bahwa metode ilmiah tersebut objektif adalah dengan melepasnya dari konteks dan kondisi sosial di mana ia muncul. Ia sama sekali tidak objektif. Ia bukanlah satu-satunya metode pengetahuan. Ia bukanlah satu-satunya jalan untuk memahami kebenaran. Dan ia tidak bebas nilai. Secara terang-terangan, metode ini maskulin. Secara terbuka pula ia mensyaratkan pemisahan manusia dari bumi dan berarti tujuan pengetahuan untuk mendominasi alam.

Lalu, apakah metode pengetahuan yang lebih feminin yang dipadamkan pada waktu itu? Metode-metode “feminin” yang didasarkan pada observasi dan interaksi dengan bumi dalam rangka meningkatkan siklus kesuburan dengan cara yang bermanfaat bagi semua. Sebagai contoh, kita belajar bahwa ketika kita mengubur ikan dengan jagung, jagung tersebut tumbuh dengan lebih baik—hal-hal semacam itu. Pengetahuan perempuan mengenai bumi diturunkan dari generasi ke generasi—dan dianggap sebagai takhayul belaka oleh para ilmuwan yang sedang naik daun dengan metode-metode reduksionis mereka. 

Namun, bagaimanapun juga, ilmu pengetahuan reduksionis telah meraih banyak kesuksesan. Ia menghasilkan bom nuklir, plastik pembungkus, coca-cola, jalan tol lintas provinsi, berbagai keajaiban dunia! Namun, ia belum menuntun kita pada pemahaman sejati akan alam atau bumi sebab bagian-bagian alam tidaklah terpisah, semua saling ketergantungan. Anda tidak bisa melihat satu bagian tanpa memperhatikan bagian lainnya, semua saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Cara ilmu pengetahuan reduksionis melihat dunia telah memberikan kita antibiotik yang menciptakan bakteri super, metode kendali banjir yang menciptakan banjir yang lebih besar dari sebelumnya, dan pupuk yang membuat tanah kita mandul. Itu semua adalah contoh-contoh kecacatan jenis ilmu pengetahuan reduksionis. 

Kontras dengan sistem pemisahan dan dominasi yang maskulin ini, ekofeminisme mencari ilmu pengetahuan alam. Ilmu pengetahuan alam adalah sebuah ilmu pengetahuan yang menyeluruh dan interdependen. Anda melihat hal-hal secara menyeluruh dan semuanya berinteraksi, bukan hanya memperhatikan hal-hal secara terpisah. Ekofeminisme juga berarti bahwa manusia adalah bagian dari alam dan takdir kita tidak terpisahkan. Kita harus hidup dalam siklus kesuburan bumi dan kita dapat menambah kesuburan itu dengan interaksi yang bermuatan informasi. 

Di India, ketika gerakan Chipko bermula, para perempuan adalah penjaga hutan dan juga penjaga agrikultur. Jadi, ketika para perempuan membawa lembu-lembu ke pepohonan (lebih menyerupai sabana dibandingkan hutan), lembu-lembu tersebut menyuburkan pepohonan dan menggigiti bagian pohon dan rantingnya. Mereka membantu pemangkasan dan membuat pepohonan memproduksi lebih banyak kacang dan buah. Interaksi semacam ini meningkatkan siklus kesuburan alam. Sehingga, daripada mencoba untuk menaklukkannya, atau merusaknya, atau mengganggunya, metode feminin mendasarkan diri pada berinteraksi dan meningkatkan siklus kesuburan. Persis hal inilah yang dihapuskan ketika kekuatan kolonial masuk dan menjajah.

Pandangan ekofeminis yang menyeluruh dan interdependen melihat bahwa manusia tidak dapat terpisahkan dari alam. Hal ini tidak ada bedanya dengan ekologi dalam dan biosentrisme. Secara sederhana, ia hanyalah cara lain untuk menggambarkan hal yang sama. Oleh karena itu, menganut ekologi dalam atau biosentrisme berarti menantang sistem pengetahuan maskulin yang mendasari kerusakan bumi dan yang mendasari justifikasi atas struktur masyarakat kita.

Namun, bagaimanapun juga, ekofeminisme tidak mencari cara untuk mendominasi pria seperti wanita didominasi di bawah patriarki. Sebaliknya, ia mencari sebuah keseimbangan. Kita membutuhkan baik kekuatan maskulin maupun feminin. Kita tidak perlu menyingkirkan kekuatan maskulin. Keduanya ada di dunia ini, tetapi mereka harus ada dalam keseimbangan. Kita membutuhkan penakluk dan pendominasi sama seperti kita membutuhkan pemelihara. Ekofeminisme berusaha mencari keseimbangan itu. 

Masyarakat ini benar-benar sangat tidak seimbang, sehingga kita perlu kebangkitan si Feminin secara besar-besaran. Kita membutuhkan bangkitnya individu-individu perempuan dan juga meningkatnya ideologi feminisme baik di kalangan perempuan maupun laki-laki. Untungnya, saya telah melihat cukup banyak juga perubahan menuju ke arah itu. Saya pikir saya lebih terkesan dengan remaja laki-laki dibandingkan dengan remaja perempuan. Sungguh menyenangkan rasanya melihat mereka saling berpelukan dan ingin merawat kebun juga hal-hal semacamnya. Hal seperti itu tidak mungkin terjadi di generasi saya.

Tanpa keseimbangan antara si Maskulin dan Feminin, saya tidak percaya kita dapat membuat perubahan yang kita butuhkan untuk kembali kepada keseimbangan dengan alam. Untuk alasan-alasan itulah, saya pikir, ekologi dalam atau biosentrisme berkontradiksi dengan patriarki, dan dengan merangkul ide ekologi dalam atau biosentrisme, itu berarti menantang inti keyakinan terhadap sistem ilmu pengetahuan yang maskulin.

Apa Artinya Ini Bagi Gerakan?

Fakta bahwa ekologi dalam adalah sebuah filsafat revolusioner menjadi salah satu alasan Earth First! ditarget FBI untuk dihancurkan dan dilenyapkan. Fakta bahwa kita tidak mengenalinya sebagai sesuatu yang revolusioner adalah salah satu alasan kita sangat tidak siap terhadap besarnya serangan. Jika kita ingin terus bergerak, Earth First! dan keseluruhan gerakan ekologi harus menyesuaikan taktik mereka dengan perubahan-perubahan mendalam yang diperlukan untuk membuat masyarakat kembali selaras dengan alam. 

Satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan meluaskan fokus kita. Tentu saja tempat-tempat sakral harus dilestarikan dan sepenuhnya pantas bagi sebuah gerakan ekologi untuk memusatkan perhatian pada perlindungan area hutan belantara yang tidak tergantikan. Akan tetapi, mendefinisikan gerakan kita sebagai gerakan yang peduli hanya pada hutan belantara—seperti yang Earth First! lakukan pada 1980-an—sama saja dengan merusak diri sendiri. Anda tidak dapat dengan serius mengatasi masalah hutan belantara tanpa membahas dan mengatasi masalah masyarakat yang menghancurkannya. Hanya perlu menunggu waktu bagi gerakan ekologi—dan di sini saya tidak hanya berbicara tentang Earth First!—untuk berhenti memandang dirinya terpisah dari gerakan sosial. Kekuatan yang sama yang mewujudkan dirinya dalam ekstraksi sumber daya di pedesaan juga mewujudkan dirinya sebagai rasisme, kelas-kelas sosial, dan eksploitasi manusia di perkotaan. Gerakan ekologi harus menyadari bahwa kita hanya satu front dalam sebuah sejarah perjuangan yang panjang dan membanggakan.

Sebuah gerakan ekologi revolusioner juga harus terorganisasi di kalangan pekerja dan orang miskin. Dengan pengecualian gerakan anti racun dan gerakan hak atas tanah adat, sebagian besar aktivis lingkungan di Amerika Serikat adalah orang kulit putih dan berprivilese. Kelompok ini terlalu melekat pada sistem untuk dapat menjadikannya sebuah ancaman. Ideologi revolusioner di tangan orang-orang berprivilese memang dapat mengganggu dan membawa perubahan dalam sistem. Namun, ideologi revolusioner di tangan para pekerja dapat membuat sistem tersebut berhenti. Sebab, para pekerjalah yang menggerakkan mesin-mesin, dan hanya dengan menghentikan mesin-mesin penghancur itu kita bisa berharap untuk menghentikan semua kegilaan ini. 

Bagaimana mungkin kita memiliki gerakan yang berfokus pada pembuangan limbah beracun, contohnya, tetapi kita tidak memiliki gerakan pekerja untuk menghentikan produksi racun? Hanya ketika pekerja pabrik menolak untuk berproduksi, hanya ketika karyawan penebangan menolak menebang pohon-pohon tua, baru kita bisa berharap untuk perubahan nyata dan bertahan lama. Sistem ini tidak dapat dihentikan secara paksa. Sistem ini begitu penuh kekerasan dan tidak kenal belas kasihan, melebihi kapasitas gerakan perlawanan masyarakat mana pun. Satu-satunya cara yang dapat saya bayangkan untuk menghentikannya adalah dengan ketidakpatuhan yang dilakukan secara besar-besaran. 

Ayo kita tetap memblokade buldoser-buldoser itu dan memeluk pepohonan itu. Mari kita fokuskan kampanye kita pada korporasi global yang sangat merusak. Namun, kita harus mulai menempatkan aksi kita dalam konteks yang lebih besar: ekologi revolusioner. 

«««

JUDI BARI

7 November 1949 – 2 Maret 1997

“Ideologi revolusioner di tangan orang-orang berprivilese memang dapat mengganggu dan membawa perubahan dalam sistem. Namun, ideologi revolusioner di tangan para pekerja dapat membuat sistem tersebut berhenti. Sebab, para pekerjalah yang menggerakkan mesin-mesin, dan hanya dengan menghentikan mesin-mesin penghancur itu kita bisa berharap untuk menghentikan semua kegilaan ini.”

 ~ JUDI BARI

Judi Bari lahir di Baltimore pada 1949. Kuliahnya berantakan karena ia aktif di demonstrasi anti-perang Vietnam. Ia putus kuliah di tahun kelimanya di universitas dan menjadi pekerja kerah biru di sebuah supermarket. Tak perlu waktu lama baginya untuk terlibat aktif dalam pengorganisasian serikat buruh. Ia terlibat dalam pemogokan 17.000 karyawan supermarket yang berakhir gagal karena dihancurkan oleh birokrat serikat. 

 Pada masa-masa ini Bari juga mempelajari seni bela diri karate hingga meraih sabuk hitam. Beberapa tahun kemudian ia benar-benar menghancurkan batasan-batasan gender: ia lulus ujian layanan sipil yang mengharuskannya mengangkat dan menenteng tas surat seberat 70 pound (+/- 31 kg). Ia pun mendapat pekerjaan di Kantor Pos Amerika dan menangani surat dalam jumlah besar. Bari melanjutkan aktivitasnya di serikat buruh dan menerbitkan koran pekerja. Ia menggunakan keahliannya dalam menggambar dan pengetahuannya soal desain grafis dalam berbagai aktivismenya.  Selama bekerja di kantor pos ini, lagi-lagi Judi Bari terlibat aktif dalam sebuah pemogokan liar dan sabotase di tempat kerja yang sukses memaksa Perusahaan Pos Amerika memperbaiki kondisi kerjanya. 

Namun, sosok Judi Bari melambung ketika ia bergabung ke dalam kelompok pro-lingkungan hidup yang desentralis dan non-hirarkis bernama “Earth First!”. Ketertarikannya pada isu lingkungan bermula ketika ia pindah ke Mendocino County dan mulai bekerja sebagai tukang kayu. Ia menerima pesanan membuat pondok-pondok mewah untuk rumah berlibur para eksekutif urban. Judi Bari penasaran dengan kayu berserat cantik yang kerap dipakunya dan ia pun mencari tahu dari mana papan-papan kayu tersebut berasal. Ia marah ketika mengetahui bahwa kayu-kayu tersebut berasal dari pohon-pohon tua berusia 1000-2000 tahun. Ia memutuskan untuk melestarikan pepohonan tua yang tersisa di Redwood. 

 Judi Bari menjadi salah satu aktor kunci dalam kampanye dan aksi-aksi Earth First! dalam melawan perusahaan-perusahaan yang melakukan penebangan hutan secara gila-gilaan. Kampanye pertamanya dilakukan di Cahto Park, California. Judi Bari dan aktivis pencinta lingkungan lainnya memblokade penebangan ratusan hektare hutan. Cahto Park akhirnya berhasil terhindar dari ancaman gergaji besi dan ditetapkan sebagai Area Konservasi Alam Liar. Ia juga salah satu pengorganisasi kunci aksi penyelamatan hutan Headwaters yang terkenal di California.

 Kehadiran Judi Bari di Earth First! juga berhasil mengundang lebih banyak partisipan perempuan, mengingat kelompok ini sangat maskulin dan sebelumnya didominasi oleh pria. Menurut Koordinator Pusat Lingkungan Hidup Mendocino, Betty Ball, ada beberapa perempuan yang terlibat di Earth First! sebelumnya, tetapi tidak sesukses Judi Bari dalam mem“feminisasi”kannya. Pengaruh Judi memberi ruang bagi lebih banyak perempuan untuk turut andil dan berpengaruh pada Earth First!. Judi Bari juga memahami pentingnya membasiskan diri pada komunitas, bahwa aktivisme semestinya menjadi aktivitas komunitas.  “Ketika aku dan Greg King yang mengorganisasi demonstrasi, lusinan dan mungkin ratusan orang datang. Namun, ketika Judi terlibat, ribuan orang datang,” ujar  Darryl Cherney, rekan dan pasangan Judi Bari. 

 Pada 1988 ada sebuah demonstrasi anti-aborsi yang hendak menutup sebuah klinik kesehatan di Ukiah. Judi Bari dan Cherney bergabung ke demonstrasi oposisi untuk mempertahankan keberadaan klinik tersebut. Mereka menggubah sebuah lagu, mengganti liriknya dengan kalimat-kalimat pro-aborsi dan menyanyikannya selama aksi. 

 Ada dua hal yang dianggap ampuh dan mujarab oleh Judi Bari: musik dan aksi langsung nirkekerasan. Musik menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya pengorganisasiannya. Ia mempelajari biola sejak remaja, dan biola menjadi teman akrabnya di setiap pawai, demonstrasi, dan aksi publik. Ia akan senang hati bergabung dengan para musisi lainnya dan menyanyikan lagu-lagu. Baginya, musik adalah alat pemersatu dan pemacu semangat. Begitu pula dengan aksi langsung nirkekerasan. 

 Dengan pengalaman 20 tahun menjadi buruh dan aktif di gerakan buruh, Judi Bari mampu menarik simpati para pekerja penebangan. Ia menjalin aliansi dengan para pekerja penebangan, bahkan ketika sedang memblokade pekerjaan mereka. Tentunya ini bukan hal mudah. Aktivitas Earth First! bersinggungan langsung dengan para pekerja perusahaan penebangan. Para pekerja kerap menganggap Bari dan kawan-kawan dapat mengganggu pekerjaan mereka. Bari menunjukkan pada para pekerja perusahaan penebangan bahwa dirinya bukanlah musuh pekerja. Dirinya dan para pekerja sebenarnya memiliki musuh yang sama, yaitu korporasi yang mengeksploitasi alam. Ia menghabiskan banyak waktu untuk meyakinkan para pekerja akan hal ini.

 Apa yang diyakini Judi Bari terbukti ketika perusahaan bahan bangunan Georgia Pacific menumpahkan cairan racun PCB (Poliklorin Bifenol). Para pekerja Georgia Pacific yang pertama terkena dampaknya. Bari membantu menghubungkan para pekerja yang terluka dengan serikat buruh Industrial Workers of The World (IWW) dan memberi dukungan teknis agar para pekerja memenangi kasus ini di Pengadilan Buruh Amerika. 

 Pada 1989, Bari menulis artikel di koran IWW dengan menyatakan bahwa waktunya sudah tiba bagi ‘wobblies’ (sebutan untuk anggota IWW) untuk melakukan pengorganisasian di kalangan buruh penebang kayu. Dalam sebuah wawancara yang dimuat di Libcom, Bari menyatakan bahwa pengorganisasian yang ia maksud bukan pengorganisasian serikat buruh tradisional, melainkan pengorganisasian agar para pekerja dapat mengambil alih sumber-sumber penghidupan mereka ketika perusahaan Georgia Pacific bangkrut.

Judi Bari dengan vokal mendukung warga Mendocino untuk mengerahkan kekuatannya dan mengambil alih 300.000 acre (sekitar 121.400 hektare) hutan dan tanah dari perusahaan Louisiana Pacific untuk kemudian dioperasionalkan sesuai kebutuhan publik di bawah kendali koperasi pekerja.  Sepertinya Judi Bari menjadi terlalu berbahaya hingga seseorang harus menaruh bom di mobilnya pada Agustus 1989. Bom tersebut meledak dan meninggalkan luka serius, tetapi Judi Bari selamat. Walaupun harus duduk di kursi roda, ia tetap melanjutkan aktivitas pengorganisasiannya hingga kematiannya pada 1997 karena kanker payudara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *